Rabu, 15 November 2017

Literasi Sebagai Penggerak Pewaris Bangsa



LITERASI SEBAGAI PENGGERAK PEWARIS BANGSA
(GERAKAN LITERASI KAMPUS)

             literasi dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Literasi merupakan kegiatan yang memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre dan  kultural. Istilah literasi atau dalam bahasa Inggris literacy berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti "a learned person" atau orang yang belajar. Dalam bahasa Latin juga dikenal dengan istilah littera (huruf) yang artinya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya.
Gerakan literasi kampus adalah gerakan untuk meningkatkan kesadaran membaca, menulis, dan berbicara dikalangan mahasiswa. Membaca adalah cakrawala dunia yang dapat membuka wawasan,pengetahuan tentang berbagai informasi yang belum kita tahu. Kegiatan literasi sangatlah penting bagi mahasiswa, terutama bagi mahasiswa yang mengambil studi bahasa.  Literasi hendaknya tidak dipandang sebagai budaya lama yang kolot, ataupun budaya baru yang asing. Hendaknya, literasi dipandang sebagai sebuah budaya lestari yang selalu baik kebermanfaatannya.
Generasi muda sekarang, khususnya di kalangan mahasiswa sudah tentu amat membutuhkan budaya literasi. Pemikiran – pemikiran muda para mahasiswa yang sedang amat produktif, baiknya diimbangi dengan cakrawala pengetahuan yang luas dan dapat dipertanggungjawabkan. Baik itu pengetahuan tentang teori pembelajaran, sosial dan lingkungan, budaya, agama, norma, nilai, bahkan pengetahuan era global zaman sekarang.
Di era media sekarang ini, budaya literasi, seperti membaca, menulis dan berbicara adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh mahasiswa. Karena budaya literasi merupakan ciri khas dari mahasiswa sebagai elit intelektual. Gerakan literasi kampus dapat dimulai dengan mengoptimalkan fungsi perpustakaan sebagai wadah pengembangan mutu literasi dan yang ada di kampus. Di era media sekarang ini, budaya literasi, seperti membaca, menulis dan berbicara adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan mahasiswa. Karena hal itu merupakan ciri khas mahasiswa, sebagai elit intelektual. Berbagai ruang untuk membaca dan menulis sudah dijawab oleh zaman dengan sederet media sosial yang ada. Facebook, twitter, instagram, serta media online yang memberikan ruang bebas untuk kita, dalam rangka membudayakan budaya  literasi. Kita sebagai mahasiswa, yang merupakan generasi harapan bangsa, yang pula merupakan salah satu gerak sumbangsih aktif  kemasyarakatan, harus mampu memilah informasi yang kita dapatkan dari manapun, terutama era global sekarang adalah era internet. Memandang masalah ini, jiwa literasi amat penting dipupuk oleh member–member generasi supaya memiliki pengetahuan dan cakrawala harapan yang luas akan berbagai sisi kehidupan bermasyarkat.
Dalam hal ini, pemerintah dan pihak unversitas sudah melakukan banyak sumbangsih terhadap kemajuan literasi kampus. Pemerintah sudah menyediakan banyak fasilitas penunjang literasi yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa. Mulai dari perpustakaan daerah dengan koleksi buku-buku nya yang tidak sedikit. Baik buku nasional, maupun internasional, baik buku lama, maupun buku terbaru. Dalam kancah universitaspun, tidak kalah gencarnya dalam menyediakan sarana literasi yang seluas-luasnya untuk para mahasiswa.
Di dalam kampus, bukan main usaha pihak universitas dalam memerdekakan literasi. Perpustakaan universitas, tidak hanya terdiri dari satu perpustakaan saja. Di beberapa universitas, menggunakan sistem pembangunan perpustakaan yang tidak hanya terpusat menjadi satu saja. Ada satu perpustakan besar di pusat kampus yang biasanya disebut sebagai perpustakaan pusat. Biasanya, di dalam perpustakaan pusat ini, disediakan banyak buku, dengan berbagai jenis, beserta seluruh fasilitas yang ada. Selain perpustakaan pusat, di setiap jurusan disediakan satu perpustakaan jurusan, dimana dalam perpustakaan tersebut, banyak dan kebanyakan buku yang ada merupakan buku yang berhubungan dengan bidang ilmu jurusan tersebut. Kita sebagai pengguna, bisa dengan mudah memilih, entah itu mengambil referensi terdekat dahulu, ataupun memilih referensi yang lebih luas dan lengkap. Sudah amat jelas betapa kita dapat dengan mudah menemukan fasilitas literasi. Selain disediakan perpustakaan, banyak pula kegiatan lain yang menunjang kegiatan literasi mahasiswa. Seperti kegiatan bazar buku, bedah buku, berbagai seminar literasi, serta banyak perlombaan yang berhubungan dekat dengan literasi.
Literasi amat penting baik bagi pribadi mahasiswa maupun sosial mahasiswa. Dalam hal pribadi, literasi amat penting dalam membuka cakrawala pemikiran mahasiswa. Pemikiran yang terbuka bagi seorang mahasiswa sebagai punggawa bangsa amat penting selain bagi pribadi tetapi juga akan mempengaruhi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kamis, 09 November 2017

Sepenggal Kisah Dirku




Aku dan Unnes


Unnes. Unnes adalah salah satu universitas negeri yang terletak di Semarang, Jawa Tengah yang sudah menjadi kampus impianku sejak kecil. Impianku ini berawal dari kisah abahku yang berkuliah di Unnes dimana waktu beliau berkuliah dipenuhi perjuangan karena keterbatasan biaya. Mulai dari situ aku terinspirasi untuk kuliah di Unnes.
Sejak SD aku sudah menyusun mimpi studi yang akan aku jalani, ya termasuk kuliah di Unnes ini. Mulai masuk SMA aku sudah mendiskusikan jurusan apa yang akan aku ambil saat kuliah nanti. Sejak kecil aku memang memcita-citakan untuk masuk jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, orang tuaku memberi kebebasan adaku untuk memilih jurusan apa yang akan aku ambil asal sesuai kondisi kemampuan orang tua.
Dengan dukungan penuh dari orang tua ini aku semakin bersemangat untuk berusaha agar aku dapat masuk Unnes lewat jalur tanpa tes atau SNMPTN. Waktu kelas XII aku memiliki dua pilihan yang aku buat sendiri dalam hal mendaftar perguruan tinggi. Pertama, aku mendaftar di Unnes melalui jalur SNMPTN. Kedua, aku mendaftar universitas swasta di Solo jika aku tidak beruntung dijalur SNMPT karena aku tidak berminat masuk Unnes melalui jalur SBMPTN.
Waktu proses pendaftaran SNMPTN aku memilih satu universitas saja yaitu Unnes dengan 2 prodi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa. Kenapa aku hanya memilih satu universitas? Padahal ketentuannya dapat memilih dua universitas yang berbeda, hal ini karena aku berfikir jika aku milih satu universitas maka Unnes akan melihat kesungguhanku  untuk masuk Unnes dan memprioritas dalam memilih universitas.
Selama menunggu waktu pengemuman SNMPTN aku mendaftar kuliah di universitas swasta di Solo lewat jalur beasiswa. Dan lucunya tanggal pengumuman lolos SNMPTN dan lolos seleksi tahap pertama jalur beasiswa di universitas swasta itu sama. Jadi pengumuman untuk seleksi tahap pertama itu pukul 10:00 WIB sedangkan pengumuman lolos SNMPTN itu pada pukul 14:00 WIB, aku lupa itu tanggal berapa yang aku ingat adalah itu hari rabu dan pada waktu itu aku sudah berada di Solo persiapan seleksi tahap kedua jika lolos tahap pertama. Dan Alhamdulillahnya dari kedua pengumuman tersebut aku lolos semua tapi aku langsung memilih Unnes dan melepaskan beasiswa universitas swasta walaupun masih ada tahap kedua sih, hehehehe
Kamu tahu apa yang aku rasakan sehari sebelu pengumuman SNMPTN, yang aku rasakan setiap memikirkan hasil pengumuman adalah dada sesak seperti ada yang mengganjal serta tak bisa tidur, husssh payah.
Masuk dunia perkuliahan, sebelum perkuliahan aku harus melewati beberapa tahapan setelah dinyatakan lolos SNMPTN. Masuk perkuliahan diawali dengan PPAK, acara orientasi kampus gitu ya bisa dibilang seperti ospek lalu dilanjutkan dengan orientasi pramuka atau OKPT yang hanya ada di Unnes saja. Dan kegiatan tersebut aku mendapatkan banyak hal,ya ada seneng ada susahnya juga. Setelah kegiatan tersebut maka masuk dunia perkuliahan seperti biasa untuk pertama kalinya. Awalnya butuh waktu untuk menyesuaiakan diri dengan system belajar baru, tugas-tugas dengan deadline yang mepet, penyesuaian pada pergaualan di kampus. Jujur waktu aku di Unnes aku susah menerima system pergaualannya dan sempat merasa salah tempat, mungkin aku seperti itu karean aku belum tahu dunia luar seperti apa dan aku belum siap untuk menerima hal itu ada bagian kehidupan. Tapi seiring berjalannya waktu aku sudah bisa menyesuaiakan diriku di Unnes sebenarnya itu memang proses pendewasaan setiap orang.
Dan nah inilah aku!! Seorang mahasiswa baru yang awalnya masih tabu dengan dunia kampus dan sekarang sudah mulai menikmati diriku di Unnes.
Ya inilah sepenggal kisahku tentang Unnes walaupun aku sebenarnya masih ada kisah-kisah lain, mungkin kali lain aku bisa dapat berbagi ceritaku lagi

#Sastragram, sastra untuk Generasi Milenial

Pengunaan aplikasi Instagram saat ini sudah menjadi kebutuhan wajib bagi anak muda pada era milenial. Salah satu dampak tingginya pen...

Sepenggal Kisah Diri