16 Januari – 6 Februari 2019 = pembayaran UKT (Uang Kuliah Tunggal)
Itulah yang tertulis
dalam surat pengumuman online yang siang
ini baru aku terima dari sistem web kampusku. Helaan nafas panjang adalah
respon yang kutunjukkan. Sudah satu tahun setengah aku menjadi mahasiswa tapi
untuk sampai ini juga aku merasa galau mengenai UKT. Setiap kali memasuki waktu
pembayaran UKT, diri ini seakan dihantui oleh momok UKT yang menurutku cukup
tinggi.
Aku memang dari keluarga
berkategri bercukupan, cukup makan seadanya, cukup menghemat uang saku, cukup
hidup sadar kondisi. Di tambah lagi saat ini keluarga berada dalam kondisi harus
bersabar dalam segala hal. Tepat satu tahun lalu Abahku terkena stroke yang
menharuskan beliau cuti dari pekerjaannnya sebagai guru disalah satu SMP Negeri
di kecamatanku. Semenjak itu Umi mau tidak mau harus mengambil alih posisi
kepala keluarga, terpaksa menjadi single parent untuk sementara waktu, mencoba
menghidupi lima orang anak dan biaya pengobatan Abah.
Dalam kondisi seperti
ini, aku merasa sedikit berat menggelontorkan uang orang tuaku untuk UKT. Tapi
jangan berpikir aku tipe orang yang pelit untuk hal pendidikan, aku bersikap
seperti itu karena ada alas an yang sudah aku cerita secara garis besar diatas.
Pernah sekelebat pikiran
putus asaku mengetuk otakku. Waktu itu aku pulang ke rumah setelah Ujian Akhir
Semester. Kuamati raut muka kedua orang tuaku, wajah umi yang terlihat lelah. Aku
utarakan niat putus asaku pada mereka.
“Mi, Bah. Gimana kalau
semester ini aku cuti dulu? Aku kerja dulu”
Tentu reaksi orang tuaku
tidak setuju. Niatku ditolak mentah-mentah. mereka
Menyadari kondisi
keluarga semacam ini, aku berusah mencari jalan keluar dengan mencari beasiswa
yang sekira dapat membantuku untuk meringankan beban pikiran atas biaya kuliah
atau biaya kehidupan di tanah rantau. Namun sering kali aku terhenti karena
bersyaratan harus menyertakan surat keterangan tidak mampu. Jika ada syarat
tersebut aku pasti akan mundur secara teratur. Aku bukan sombong, hanya saja
aku masih tahu diri karena masih ada yang lebih tepat untuk menerima surat
keterangan itu. Walaupun aku membutuhkan bantuan bukan berarti aku harus
membohongi dunia dengan surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan dari
kelurahan. Dan jalan ini pasti berakhir pada muara tidak lolos.
Aku mencoba jalan lain,
yaitu mencoba dengan berjualan online, menjualkan barang dagangan orang lain. Jalan
ini juga terhenti karena tidak mendukungnya komunikasi yang terbangun dari
kedua belah pihak.
Pada masa-masa pencarian
jalan keluarku ini, aku seperti tertampar dengan sekitarku. Banyak orang-orang yang
sudah beruntung mendapat bantuan biaya pendidikan tapi tidak menempatkan
keberuntungan itu pada porsinya. Menurut pengamatanku, banyak dari mereka
memiliki gaya hidup lebih dari kata cukup bahkan tergolong glamor/mewah. Kenyataan
yang terkadang menohokku.
Keluar dari
semua itu, aku dapat mengambil pelajaran yang aku simpulkan sendiri bahwa Allah
Maha Adil. Allah memberikan rezeki untuk semua makhluknya sesuai dengan
porsinya yang menurut Allah itu sudah pas. Allah juga berhak mengambil dan
melebihi rezeki itu kapanpun, dimanapun, itu hak Allah. Dan rezeki itu adalah
rezeki Allah yang harus kita usahakan tapi jangankan rezeki itu sebagai tujuan
utama setiap langkah kehidupan ini.
