Selasa, 22 Januari 2019

Mampu? Cukup? Kurang Mampu?






16 Januari – 6 Februari 2019 = pembayaran UKT (Uang Kuliah Tunggal)

Itulah yang tertulis dalam surat  pengumuman online yang siang ini baru aku terima dari sistem web kampusku. Helaan nafas panjang adalah respon yang kutunjukkan. Sudah satu tahun setengah aku menjadi mahasiswa tapi untuk sampai ini juga aku merasa galau mengenai UKT. Setiap kali memasuki waktu pembayaran UKT, diri ini seakan dihantui oleh momok UKT yang menurutku cukup tinggi.
Aku memang dari keluarga berkategri bercukupan, cukup makan seadanya, cukup menghemat uang saku, cukup hidup sadar kondisi. Di tambah lagi saat ini keluarga berada dalam kondisi harus bersabar dalam segala hal. Tepat satu tahun lalu Abahku terkena stroke yang menharuskan beliau cuti dari pekerjaannnya sebagai guru disalah satu SMP Negeri di kecamatanku. Semenjak itu Umi mau tidak mau harus mengambil alih posisi kepala keluarga, terpaksa menjadi single parent untuk sementara waktu, mencoba menghidupi lima orang anak dan biaya pengobatan Abah.
Dalam kondisi seperti ini, aku merasa sedikit berat menggelontorkan uang orang tuaku untuk UKT. Tapi jangan berpikir aku tipe orang yang pelit untuk hal pendidikan, aku bersikap seperti itu karena ada alas an yang sudah aku cerita secara garis besar diatas.
Pernah sekelebat pikiran putus asaku mengetuk otakku. Waktu itu aku pulang ke rumah setelah Ujian Akhir Semester. Kuamati raut muka kedua orang tuaku, wajah umi yang terlihat lelah. Aku utarakan niat putus asaku pada mereka.
“Mi, Bah. Gimana kalau semester ini aku cuti dulu? Aku kerja dulu”
Tentu reaksi orang tuaku tidak setuju. Niatku ditolak mentah-mentah. mereka
Menyadari kondisi keluarga semacam ini, aku berusah mencari jalan keluar dengan mencari beasiswa yang sekira dapat membantuku untuk meringankan beban pikiran atas biaya kuliah atau biaya kehidupan di tanah rantau. Namun sering kali aku terhenti karena bersyaratan harus menyertakan surat keterangan tidak mampu. Jika ada syarat tersebut aku pasti akan mundur secara teratur. Aku bukan sombong, hanya saja aku masih tahu diri karena masih ada yang lebih tepat untuk menerima surat keterangan itu. Walaupun aku membutuhkan bantuan bukan berarti aku harus membohongi dunia dengan surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan dari kelurahan. Dan jalan ini pasti berakhir pada muara tidak lolos.
Aku mencoba jalan lain, yaitu mencoba dengan berjualan online, menjualkan barang dagangan orang lain. Jalan ini juga terhenti karena tidak mendukungnya komunikasi yang terbangun dari kedua belah pihak.
Pada masa-masa pencarian jalan keluarku ini, aku seperti tertampar dengan sekitarku. Banyak orang-orang yang sudah beruntung mendapat bantuan biaya pendidikan tapi tidak menempatkan keberuntungan itu pada porsinya. Menurut pengamatanku, banyak dari mereka memiliki gaya hidup lebih dari kata cukup bahkan tergolong glamor/mewah. Kenyataan yang terkadang menohokku.
  Keluar dari semua itu, aku dapat mengambil pelajaran yang aku simpulkan sendiri bahwa Allah Maha Adil. Allah memberikan rezeki untuk semua makhluknya sesuai dengan porsinya yang menurut Allah itu sudah pas. Allah juga berhak mengambil dan melebihi rezeki itu kapanpun, dimanapun, itu hak Allah. Dan rezeki itu adalah rezeki Allah yang harus kita usahakan tapi jangankan rezeki itu sebagai tujuan utama setiap langkah kehidupan ini.

#Sastragram, sastra untuk Generasi Milenial

Pengunaan aplikasi Instagram saat ini sudah menjadi kebutuhan wajib bagi anak muda pada era milenial. Salah satu dampak tingginya pen...

Sepenggal Kisah Diri